#fail Backpacker Story : Yoga, young child with a brave heart

26/01/2012 § 1 Comment

kali ini saya mau nyoba ceritain pengalaman backpacker-an sama anak anak ke Malang beberapa hari kemarin, tapi ini bukan masalah perjalanan, biayanya berapa, ini cerita tentang bagian kecil dari perjalanan kami, hal hal kecil dengan pengalaman besar, pengen nulis tentang perjalanan tapi datanya saya kurang ingat, tapi ada catatan perjalanan yang ditulis sama saudara Wantok, nanti saya coba post deh.

Oke, ini cerita tentang pengalaman bertemu seseorang yang menjadikan saya sedikit level up mengenai Indonesia society, mata kuliah yang ga pernah saya pelajari di kampus haha.
Kan pas kita di perjalanan menuju Malang dari Gubeng(Surabaya) kita ambil kereta Penataran, biasa lah, kalo orang udah kesel duduk terus, pasti coba cari angin ke depan gerbong, liatin keadaan luar dari pintu gerbong yang terbuka, salah satu hal yang menenangkan.
Disana saya lihat anak kecil dengan jaket timnas Indonesia abal abal, entah KW berapa, dengan sendal jepit lusuh, duduk di samping pintu gerbong yang terbuka tersebut, dia menunduk, menutup telinga dengan tangannya, ya karena kita pada saat itu berada di gerbong yang paling depan, dibelakang lokomotif, jelas suara berisiknya kerasa banget, matanya ditutup dengan syal warna biru. Saat situ emang kereta bergoyang cukup keras, karena emang kerasa kalo kereta jalannya kenceng banget, pada saat itu saya sama Guntur lihat langsung anak kecil tersebut mojok, karena khawatir kalo anak kecil itu bisa jatoh dari gerbong, si Guntur nyuruh saya buat negur si anak kecil supaya jauh jauh dari pintu gerbong yang terbuka tersebut.

Biasa lah, kalo ketemu orang baru dikenal pas di kereta dikit dikit sepik sepik, kurang lebih percakapannya seperti ini, sorry banyak part yang kelupaan.
(S : Syauqy, AK : Anak Kecil)

S : “Dek, mau kemana? Malang?” (Starting question paling sering dipake)
AK : “Iya mas.”
S : “Asalnya darimana? Surabaya? Ngapain ke Malang?” (Makin nyolot haha)
AK : “Dari Malang, mau ke Malang.”
S : “Nah lo, emang dari mana dek?”
AK : “Pergi aja dari rumah mas.”
S : Glek, saya saat itu sedikit nahan nafas “hah? Pergi? Kenapa?”
AK : “Diboongin sama ibuk mas, aku kan pengen minta uang buat beli HaPe, tapi kata ibuk ga ada, padahal uangnya ada dan dipake sama bapak.” (sambil memeragakan orang yang sedang minum, saya paham, dia coba nunjukin kalo uangnya dipake bapanya buat mabok mabokan). HaPe mungkin sekarang udah jadi kebutuhan pokok masyarakat, meskipun itu dari kalang lo-med. Inget zaman ketika saya semuuran dia, Nokia 3310 adalah gadget Finlandia punya si babeh yang paling imba haha,  kartu perdana operator seluler aja harganya masih diatas satu juta. Ga pernah kepikiran buat nenteng gadget seperti itu.

S : “Ooohh, lagi liburan ya dek?” Mencoba untuk tetap tenang
AK : “Engga mas, aku udah berhenti.” , #glek
S : “Hmm, kenapa ga pulang kerumah aja dek?”
AK : “Ga mau mas, aku diusir dari rumah.”
S : “Beneran ga mau pulang? Emang bapak ibuk ga khawatir? Aku yakin mereka pasti khawatir kalo kamu pergi gak bilang bilang loh.”
AK : “Aku wes ga dianggap anak, HaPe aja aku beli pake uang sendiri mas.”
S : “Emang bapak kerja apa?”
AK : “Ga kerja mas, kerjaannya cuma minum.”
S : “Lha ibuk?”
AK : “Ga tau mas, ibuk berangkat pagi pulangnya jam 2 malem.” 
Dalam hati saya cuma bisa bilang “Crap”, entah kenapa pada saat itu saya melihat kenyataan yang belum pernah saya ketahui sebelumnya, selama ini cerita cerita seperti yang dialami oleh anak kecil tersebut cuma bumbu sinetron doang, bapaknya tukang mabuk, ibu berangkat pagi pulang subuh entah apa yang dia lakukan, sekarang pelaku skenario hidup tersebut ada didepan saya sendiri, anak kecil berumur 11 tahun yang harus menjalankan skenario seperti itu. Coba bandingkan dengan kehidupan kita pada umur yang sama dengan anak kecil tersebut, apa yang kalian rasakan? Jujur ketika mendengar kenyataan tersebut saya merasa sangat bersyukur sekali karena menjalani skenario hidup yang tak seberat yang dijalani oleh anak kecil itu.

S : “Lha terus mau pergi kemana dek?”
AK : “Ke rumah mbah, di Jogja.”
S : “Wah, saya juga dari Jogja dek, emang udah tahu rumah mbahnya dimana?”
AK : “Ga tau mas, tapi aku udah 2 kali ko’ ke rumah mbah naik kereta.”
S : “Lha terus? entar kalo kesasar gimana?”
AK : “Lihat aja nanti mas”
S : “Ke Jogjanya naik apa? ini ko’ malah naik Penataran? “ Saya sempat ngira kalo doi salah ngambil kereta, soalnya Penataran ke arah malang, bukan Jogja.
AK : “Nanti turun di Blimbing(Malang) ko’ mas, nanti baru naik Malabar ke Jogjanya.”
S : “Eh, kamu sendirian ke Jogjanya?” *Sambil tengok kiri kanan*
AK : “iya mas.”
AK : “Mas, tadi gimana pas ada petugasnya? Aku takut e.”
S : “Ya biasa aja, kasiin aja tiketnya, orang kita udah beli tiket ko’, emang kenapa?”
AK : “Takut mas, aku ga punya tiket e.”
S : “Nah lo, berarti daritadi ga pake tiket, terus gimana?”
AK : “Ya takut mas, makannya aku dari tadi mojok terus nunduk mas.”
S : “Terus entar ke Jogjanya juga ga pake tiket? Nekat bener kamu dek haha” *Berusaha tenang*

Sumpah, pada saat itu saya sendiri sudah agak ga kuat buat nerusin percakapan, dan memutuskan untuk masuk gerbong dan duduk, selain itu coba buat nyari dompet Rayyan yang hilang dalam perjalanan di Penataran. Ga kerasa, kereta sudah berhenti di Stasiun Blimbing, dan saya inget doi turun disana, langsung saya kejar ke luar gerbong, dia ternyata sudah turun, dari pintu gerbong saya coba teriak manggil si anak kecil tersebut.

S : “Hey dek, hati hati ya, sampai ketemu di Jogja!!” *dengan muka senyum* entah kenapa saya merasa yakin kalo kita bakal ketemu lagi di Jogja.
AK : “iya mas.”
S : “Oh iya, namanya siapa dek?”
AK : “Apa mas?”
S : “Namamu siapa?” *teriak lebih kenceng lagi*
AK : “Yoga mas!!”
it’s nice to talk with a stranger, tapi entah kenapa ketika ngobrol sama anak ini, saya sendiri ga mau obrolannya hanya menjadi obrolan antara strangers.

Dan doi pun pergi dan menghilang, 11 tahun, dengan bapak tukang mabok, ibuk yang ga jelas kerjaannya ngapain, diusir dari rumah, ga dianggap anak oleh kedua orang tua, memutuskan diri untuk mencari harapan hidup lain dengan menyambangi mbah-nya di Jogja, salah satu keputusan yang sangat hardcore untuk anak seumuran dia, entah apa dia bisa melakukannya, tapi mungkin hanya harapan untuk bertemu dengan mbahnya adalah satu satunya pilihan untuk dia tetap berjalan hidup menjalani semua skenario yang telah digariskan Allah buat doi. Hey, ini adalah cerminan kecil masyarakat Indonesia. Smile
Seharusnya kita bisa belajar banyak mengenai Indonesia society, agar kita paham mengenai apa yang Indonesia butuhkan, bukan yang Indonesia inginkan.

Tagged: , , , ,

§ One Response to #fail Backpacker Story : Yoga, young child with a brave heart

  • madun says:

    kalo true story gini jadi terharu, huaaa keren qi, cepet cari anaknya, kok ya ga tanya rumah mbahnya dimana to le -.-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading #fail Backpacker Story : Yoga, young child with a brave heart at .

meta

%d bloggers like this: